Selasa, 27 Agustus 2019



Aisyah binti Abu Bakar As-Shiddiq



Nasab dan Profil.


Namanya ialah `Aisyah binti Abi Bakar bin Abi Quhaafah Utsmaan bin `Aamir bin `Amru bin Ka`ab bin Sa`ad in Taimi bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ay al-Qurasyiah, at-Taimiyah, al-Makkiyahh, an-Nabawiyah.

Aisyah merupakan anak Abu Bakar dari istrinya yang bernama Ummu Rumaan, nama aslinya Zainab dari bani Kinaanah. Sewaktu Jahiliyah Ummu Rumaan merupakan istri temannya Abu Bakar yang bernama Abdullah bin al-Haarits bin Sakhiirah, dan memiliki anak yang bernama at-Thufail. Sepeninggalnya al-Haarits, Ummu Rumaan dinikahi Abu Bakar untuk menjaganya.


Ummu Ruman adalah wanita yang cerdas, ia masuk islam, berhijrah dan mengalami kesusahan yang sangat di jalan agama dan suaminya. Diriwayatkan dari Nabi, " Barang siapa yang senang melihat wanita yang termasuk bidadari maka lihatlah pada Ummu Rumaan". Ummu Rumaan wafat pada masa Khalifah Utsman bin Affan.

Tidak bisa diketahui secara pasti kelahiran Aisyah, namun yang paling mendekati pada kebenaran ia dilahirkan pada tahun 11 atau 12 sebelum hijrah. Dengan demikian sewaktu Nabi menggaulinya usianya sekitar 14 tahun.

Aisyah lahir di Klan bani Tamim yang orang-orangnya terkenal santun, lemah lembut dan beradab. Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan itu dari orang tua dan lingkunganya. Istimewanya lagi, ia lahir dalam kondisi orang tuanya muslim, sehingga sejak kecil dia sudah mendapatkan pendidikan Islami. Lebih dari itu, sejak kecil Aisyah sudah pandai menulis sehingga bisa dikatakan dia merupakan gadis paling unggul dikalangan Klan Tamim.


Aisyah banyak mewarisi keistimewaan Abu Bakar baik dari segi fisik maupun akhlaknya.Abu Bakar memiliki wajah tampan (pada beberapa riwayat ia dijuluki `atiiq karena ketampanannya), berbadan kurus, berpostur tubuh kecil, sangat sensitif, sangat cerdas, sangat dermawan dan suka membantu orang kesusahan, sangat jujur, pintar beretorika (bisa membikin terdiam siapa saja yang berani menyinggungnya). intinya: Aisyah itu cantik, pandai, berwawasan luas dan fashih.

Nabi menikahi Aisyah pada bulan Syawal tahun kesepuluh kenabian dan baru menggaulinya sewaktu di Madinah tahun satu hijriyah. Kalau dicermati dengan baik dan saksama, rumah tangga Aisyah dengan Nabi sangat jauh berbeda dengan kondisi sewaktu Nabi bersama Khadijah. Kehidupan bersama Khadijah lebih menggambarkan kerasnya perjuangan, kedewasaan dan kematangannya dalam menenangkan hati nabi, bahkan Khadijah memiliki kekuatan spritual yang dapat meneduhkan hatinya. Sedang bersama Aisyah lebih dikenal dengan kemesraan-kemesraannya, mengingat umur Aisyah yang masih muda dan menginginkan pemenuhan terhadap hasrat mudanya, dan rupanya ini sangat menghibur Nabi.

Kedekatan Nabi dengan Aisyah sudah tidak diragukan lagi, bahkan Aisyah merupakan istri yang paling dicintainya, ini senada dengan apa yang ditanyakan oleh `Amru bin al-`Aash ketika bertanya pada Rasulullah mengenai orang yang paling dicintainya. Adapun berkenaan dengan cinta Rasulullah kepada Khadijah ada ungkapan nabi yang terkenal, “Aku dikaruniai cintanya”. Jadi disini dapat diketahui perbedaan antara cinta nabi kepada Aisyah dan Khadijah.


Lebih jauh dari itu dalam satu riwayat ditegaskan bahwa Rasulullah mengetahui kapan Aisyah marah kepadanya dan kapan ridha padanya. Kalau sedang ridha Aisyah mengucapkan: “ Demi Tuhannya Muhammad, sedang ketika marah ia mengatakan: “demi Tuhannya Ibrahim”. Diriwayat yang lain dijelaskan bahwa ketika Aisyah marah menanggil Nabi dengan sebutan, “Ya Muhammad”, dan ketika senang ia menyebutnya, “ya Rasulallah”. Pengetahuan Rasul yang mendalam mengenai kepribadian Aisyah ini menandakan betapa perhatian dan cintanya Rasullah padanya.


Kisah-kisah romantis dan mesra acap kali terjadi ketika Rasulullah bersama Aisyah. Aisyah pernah lomba lari dengannya; menonton bareng permainan anggar anak Habasyah sedang ketika itu Aisyah merangkul Rasul dari belakang; mandi bersama dalam satu bejana; menyisir rambut Rasulullah dari jendela masjid ketika i`tikaf; Rasul mencium Aisyah dengan mesra ketika sedang berpuasa; ketika menjelang wafat beliau meminta Aisyah untuk melembutkan syiwak dengan mulutnya sehingga menurut riwayat Aisyah air ludahnya bercampur dengan Rasulullah; bahkan ketika meninggal Rasulullah berada pada pangkuannya.


Antara Khadijah dan Aisyah terdapat perbedaan taqaabul. Perbedaan taqaabul (oposisi, berhadapan),ini memang sangat dibutuhkan Nabi.Khadijah bagaikan seorang ibu yang menjaganya, sedang Aisyah bagaikan seorang anak yang sedang diasuhnya. Khadijah membahagiakan Rasul dengan kebijaksanaan dan kedewasaannya, sedang Aisyah dengan kecantikan dan keaslianya.


Mas kawin nabi untuk Aisyah 400 dirham.

Gelar-gelar `Aisyah RA

1. Al-Humairaa`.

2. Ummul Mu`minin.

3. Kunya Aisyah; Ummu Abdillah.


Ciri-ciri Fisik, karakter dan akhlak Aisyah RA

1.Berkulit putih dan sangat cantik. Karena itulah sampai nabi menjulukinya, Humaiiraa`(yang berkulit sangat putih).

2. Postur tubuhnya mendekati tinggi (karena ia pernah menyindir Shafiyah yang berpostur pendek).

3. Sewaktu masih muda badannya kurus (sampai orang yang mengangkat tandunya tak merasa kalau Aisyah tak di dalamnya pada peristiwa kehilangan kalung pasca perang bani Musthaliq). Beberapa tahun kemudian badanya hampir mendekati gemuk.(sebagaimana yang diriwayatkanya dalam satu hadits, " Aku keluar bersama Nabi pada sebagian safarnya sewaktu itu aku masih muda dan kurus, lalu Nabi berkata pada sahabat2nya, kemarilah...kemarilah..kemudian Ia berkata: Kesinilah engkau (wahai Aisyah) kita akan adu lari, dan aku menang pada waktu itu, hingga setelah aku mulai gemuk pada safar yang lain Nabi berkata pada orang-orang untuk menyaksikannya kembali, kali ini Nabi yang memenangkan adu lari kemudian berkomentar, "Ini sebagai balasan dari kekalahanku waktu itu".

4. Pernah sakit demam kemudian rambutnya rontok, karena itu Ia menasihatkan, " Jika kalian punya rambut maka rawatlah".

5. Suaranya nyaring.(ini diambil dari kisah perang Jamal dimana dia berkhotbah diatas tandunya, dan orang-orang mendengarkan khutbahnya).

6. Semangat, enerjik dan berkarakter.

7. Dermawan.

8. Jujur

9. Sangat cerdas dan hafalannya kuat.

10. Gemar sekali menuntut ilmu.

11. Sering cemburu pertanda cinta.

12. Pandai ilmu sejarah, sya`ir, falaq, fiqih, tafsir, kedokteran dll.

.Beberapa Keistimewaan Aisyah binti Abi Bakar RA

Dari sisi keturunan dan kelahirannya.

Bapaknya ialah seorang yang paling dicintai nabi yaitu Abu Bakar. Sedangkan ibunya adalah Ummu Rumaan yang mana nabi pernah berkomentar mengenainya, “Barangsiapa yang ingin melihat wanita dari bidadari, maka lihatlah Ummu Rumaan”. Dari kedua orang tua yang agung inilah Aisyah lahir dan berkembang hingga Ia dewasa.

Diberi kunya Rasul dengan sebutan Ummu Abdillah.

Kisahnya ialah, suatu saat Aisyah meminta kepada Rasulullah untuk memberikannya kunya, sewaktu anak Asma` binti Abi Bakar lahir yaitu Abdullah bin Zubair maka seketika itu Rasullah memberi kunya Aisyah dengan sebutan Ummu Abdillah, ia dikenal dengan kunya tersebut hingga wafatnya.

Pernah dipanggil Rasul dengan sebutan al-muwaffaqah (yang sukses, sesuai).

Turut serta dalam peristiwa hijrah ke Madinah, dimana dia beserta ibunya melewati jalan yang terjal dan mendaki.

Jibril mendatangi nabi dalam mimpinya bahwa Aisyah akan menjadi istrinya.

Istri Rasulullah baik di dunia maupun akhirat dan akan dikumpulkan bersamanya.

Istri dan manusia yang paling dicintai Rasulullah.

Setiap kali Rasulullah menggilir istrinya selalu ditutup dengan Aisyah.

Rasulullah menganjurkan Fathimah dan lainya mencintai Aisyah.

Setiap orang yang mau memberi hadiah kepada nabi selalu pada masa giliran Aisyah.

Pernah didoakan Rasulullah agar diampuni dosa yang telah lalu dan yang akan datang.

Rasulullah menciumnya sewaktu lagi berpuasa.

Rasulullah tahu persis kapan Aisyah marah dan senang padanya.

Pernah adu balapan lari bersama Rasulullah.

Rasul tidak pernah menikahi gadis selain dirinya.

Pernah diajak Rasulullah melihat permainan tombak anak Habasyah, sedang pada waktu itu Aisyah berada dibelakang Rasulullah sambil memagudkan pipinya dipundak nabi.

Ketika turun ayat mengenai pilihan untuk tetap bersama Rasulullah atau berpisah, dia bisa menjawabnya dengan sangat baik.

Rasul memilih menetap di rumahnya ketika sakit menjelang kematian.

Keutamaan Aisyah atas wanita lain bagaikan keutamaan Tsariid (makanan daging campur roti) atas semua makanan.

.Mendapatkan salam dari malaikat Jibril dan pernah melihatnya.

Rukhsah tayammum bagi umat berkat Aisyah.

Mendapat pembebasan tak bersalah langsung dari langit pada peristiwa ifki (tuduhan berbuat serong).

Memiliki sepuluh keunggulan dari istri-istri nabi yang lain:
  1. Hanya ia istri nabi yang dinikahi dalam kondisi masih gadis.
  2. Tidak ada istri nabi yang memiliki kedua orangtua muslim dan sama-sama hijrah selain aku.
  3. Allah menurunkan terbebasnya ia dari tuduhan orang munafiq.
  4. Jibril turun dari langit dengan membawa gambaranku di sutra pada rasulullah pada waktu mimpi.
  5. Jibril berkata pada mimpi nabi, nikahilah Aisyah dia akan menjadi istrimu.
  6. .Mandi bersama Rasulullah pada satu bijana.
  7. Turun wahyu ketika bersama Aisyah.
  8. Ketika meninggal Rasulullah berada pada dada (pangkuan) Aisyah.
  9. Nabi meninggal pada waktu giliran Aisyah.
  10. Nabi dikubur di rumah Aisyah.

Berwawasan luas dan alim. Dan termasuk wanita terbaik di dunia. Urwah bin Zubair berkata: "Tidak aku jumpai seorangpun yang lebih mengetahui tentang Fiqih, kedokteran dan Sya`ir daripada Aisyah.

Zuhud, dermawan, jujur, dan cantik.

Rajin beribadah, wara` dan takut pada Allah.

Suka cemburu.

Meninggal pada bulan Ramadhan, pada tanggal 17 pada tahun 58 Hijriah, usianya ketika itu sekitar 70 tahun dan dikubur di Baqi`.

Termasuk orang yang paling banyak meriwayatkan hadits, ia meriwayatkan dari Rasulullah sebanyak 2210 hadits mengenai berbagai permasalahan agama dll.

Wanita muslimah yang paling paham (faqihah) mengenai hukum agama Islam


Pelajaran-pelajaran :
  1. Kesempurnaan yang dianugerahkan Allah kepada kita jangan sampai membuat sombong, tapi diarahkan untuk perjuangan dakwah Islam.
  2. Wanita muslimah harus mempunyai ghirah, semangat dalam memperjuangkan agama Islam.
  3. Anjuran untuk antusias dalam mempelajari ilmu, baik yang bersifat syar`i maupun kauni.
  4. Cemburu yang proporsional pertanda kuatnya cinta.
  5. Menjadi muslimah dermawan.
  6. Semakin tinggi cinta, semakin besar ujian.
  7. Berjuang untuk Islam dengan kelebihan yang dimiliki.
  8. Tak ada kata henti dalam perjuangan dakwah hingga titik darah penghabisan.
  9. .Cinta akan selalu bersemi indah di tengah badai uji dan derita.
  10. Wanita Shalihah dari kisah Aisyah RA memiliki ciri-ciri demikian : Kapasitas keimanan yang tinggi.
  • Rajin ibadah.
  • Penuh Semangat, kuat dan enerjik.
  • Penuh cinta.
  • Berwawasan luas.
  • Sopan santun.
  • Taat, sayang, dan cinta suami.
  • Dermawan, tidak mengeluh
  • Pecinta sastra.
  • Tak gentar menghadapi badai ujian.
  • Menjadi mitra yang baik dan menyenangkan bagi suami dalam dakwah.
  • Romantis dan mesra
Bunda Aisyah Radiallahu Anha cerdas, ingatan/hapalannya istimewa, menguasai dan faqih, jujur, tidak menyembunyikan ilmu, Selalu bersemangat, inspiratif, ketaatan dan keteguhan iman, penuh cinta dalam semua kondisi.

Bunda Aisyah Radiallahu Anha, kenangan yang menakjubkan ***

Bagaimana Kami mampu selama 3  purnama tanpa pernah sekalipun ada asap didapur kami
Bagaimana Kami mampu berada di mihrab, sekaligus ruang tidur sehingga setiap sujud harus memindah posisi kaki atau tangan pasangan kami
Bagaimana Kami mampu berbagi waktu dan kasih sayang dengan saudari kami
Bagaimana kami mampu berbincang akrab tentang kesukaan suami sebagaimana perbincanganmu dengan Shafiyah binti Huyay Radiallahu Anha.
Bagaimana kami mampu bersikap sebagaimana lapangnya dirimu pada saat dihadapanmu, tanpa ijinmu dan tanpa menoleh padamu suami meminang Wanita hebat, muda, terhormat dan cantik seperti Bunda Shafiyah  binti Huyay Radiallahu Anha.
Bagaimana kami mampu menata hati apabila suami juga memiliki kekasih yang luar biasa "mata enggan berkedip dan wajah enggan berpaling" sebagaimana Bunda Zainab binti Jahsy Radiallahu Anha.
Bunda Aisyah bagaimanakah engkau mencintai yang dicintai Rasulullah SAW?
Bunda kami yang luar biasa, sungguh kami ingin sepertimu

Salamu Alaika ya Ummul Mukminin Aisyah Radiallahu Anha, Kami mencintaimu, meneladanimu dan penuh harapan bisa bersamamu kelak. Amin ya Rabbal 'Alamiin


****

Senin, 24 Juni 2019

Ikhlas


Kepentingan Ikhlas 



Para Rabbani yang terdiri dari pada mereka yang aktif dalam pendidikan rohani dan yang berjalan kepada Allah telah bersetuju, bahawa kepentingan ikhlas bagi setiap amal untuk bekalan akhirat dan bagi setiap orang yg meniti jalan menuju Allah.

Al-Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata di dlm Muqaddimah kitab An-Niyyah Wal-Ikhlas Qash-Shidq, yg memakan seperempat bahagian dari kitab Al-Ihya' :

"Dgn hujjah iman yg nyata dan cahaya al-Quran, mereka yg mempunyai hati mengetahui bahawa kebahagiaan tdk akan tercapai kecuali dengan ilmu dan ibadah. Semua org pasti akan binasa kecuali mereka yg berilmu. Mereka yg berilmu pasti akan binasa kecuali yg aktif beramal. Semua org yg aktif beramal akan binasa kecuali mereka yg ikhlas."

Jadi sebutan mereka yg ikhlas sangat rentan. Amal tanpa niat adalah ketololan, niat tanpa ikhlas adalah riya', yang berarti sama dengan kemunafikan dan tidak berbeda dengan kedurhakaan. Ikhlas tanpa kejujuran dan pelaksanaannya adalah sia-sia.

Allah telah berfirman tentang setiap amal yg dimaksudkan kecuali Allah, sbg suatu yg tidak bermatlamat. Di dlm al-Quran Allah tlh berfirman yg bermaksud :

"Dan Kami menghadapi segala amal yg mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yg berterbangan."    (al-Furqan: 23)

Perkara yg serupa dengan apa yang dikatakan oleh al-Imam al-Ghazali itu sblmnya juga tlh dikatakan oleh seorang Rabbani yg arif bernama Sahl bin Abdullah at-Tustary, "Semua manusia spt org yg sdg cewek kecuali mereka yg berilmu. Semua org yg berilmu adalah org yg bingung kecuali mereka yg mengamalkan ilmunya."

Dlm lafaz lain beliau berkata, "Dunia ini adalah kematian dan kematian kecuali ilmu. Semua ilmu merupakan hujjah ke atas pemilik kecuali yg diamalkannnya. Semua amal akan sia-sia kecuali yg dilaksanakan dengan ikhlas. Ikhlas itu dalam bahaya yg besar sehingga tetap berakhir dgnnya. "

Sebagian yang lain juga berkata, “Ilmu itu laksana benih, amal laksana tanaman dan airnya adalah ikhlas.”

Ibnu 'Atha'illah berkata dalam Al-Hikam, "Sesungguhnya Allah tdk menyukai amal yg mendua (berbelah bahagi), dan tdk pula hati yg mendua. Amal yg mendua tdk diterima dan hati yg mendua juga tdk akan diterima."

Amal yg tdk disertai ikhlas adalah ibarat gambar yg mati, dan raga tanpa jiwa. Allah hanya menginginkan hakikat amal, bkn rupa dan bentuknya. Maka dr itu Dia menolak setiap amal yg pelakunya tertipu dengan amalnya.

Dlm hadits shahih riwayat Abu Hurairah, bahawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kpd jasad dan rupa kamu, tetapi Dia melihat kpd hati kamu.” Baginda memberi isyarat ke arah hati dengan jari-jari tangan lalu berkata, "Taqwa itu letaknya di sini." Dan Baginda memberi isyarat ke arah dada sebanyak tiga kali.”    (HR Imam Muslim)

Allah berfirman ttg mereka yg menyembelih hewan qurban, iaitu yg dilakukan oleh mereka yg menunaikan haji dan umrah :

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tdk dpt mencapai (keredhaan) Allah, tetapi ketaqwaan drp kamulah yg dpt mencapainya.”    (al-Hajj: 37)

Allahu a'lam..


Fit-Thariq Ilallah : An-Niyyah Wal-Ikhlas, Syeikh Yusuf al-Qaradhawi
Bersegera  Menuju  Kebaikan 
Oleh: DR. Amir Faishol Fath 

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (Ali Imran: 133) Di dalam Al-Qur’an, Allah selalu menggunakan bahasa yang menggugah agar manusia jangan berlambat-lambat melainkan bersegera menuju kebaikan. Kata wa saari’uu pada ayat di atas adalah salah satu contoh. Dalam surat Al-Baqarah: 148 ada contoh yang lain lagi, Allah berfirman: fastabiqul khairaat (maka berlombalah kalian dalam kebaikan).

 Antara kata wa saari’uu dan fastabiquu sekalipun intinya sama, yaitu bersegera dan bergegas menuju suatu tujuan, tetapi masing-masing mempunyai makna khusus: Dalam kata wa saari’uu yang ditekankan adalah kesegeraan bergerak, tanpa sedikit pun ragu, dan tanpa bertele-tele memikirkan sesuatu di luar itu, sehingga membuatnya tidak maksimal. Begitu ada panggilan shalat misalnya, ia segera bangkit meninggalkan segala pekerjaan apapun pentingnya pekerjaan itu, karena ia tahu bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih penting dari pada shalat.

 Adapun kata fastabiquu lebih kepada perintah berlomba jangan sampai keduluan yang lain. Di sini terkesan ada banyak orang yang masing-masing bergerak cepat dan bersegera untuk mencapai tujuan tertentu. Salah satu contoh, ketika menggambarkan bagaimana Nabi Yusuf as. dan wanita yang menggodanya sama berlomba menuju pintu Allah berfirman, “Wastabaqaal baab (dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu) (Yusuf: 25). Dalam perlombaan ada tenaga ekstra yang digunakan, segala kemampuan dikerahkan sehingga cita-cita yang diinginkan bisa diraih. Selain istilah wa saa ri’uu dan fastabiquu dalam surat Al-Hadid ayat 21 Allah menggunakan istilah saabiquu, ini pengertiannya lebih dahsyat lagi. Sebab dalam kata saabiquu terkandung makna bukan hanya bersegera atau berlomba, melainkan lebih dari itu, kalahkan yang lain. 

Dalam hal ini seorang hamba tidak hanya diajak untuk sekadar bekerja keras, melainkan juga berkualitas. Sebab jika hanya bersegera dan berlomba tetapi tidak bisa mengalahkan yang lain secara kualitas, usaha tersebut bisa dikatakan tidak efektif. Simaklah firman Allah mengenai makna saabiquu tersebut, “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. Penting untuk dicatat bahwa Al-Qur’an telah begitu dalam menggugah agar umat Islam tidak menjadi umat yang berleha-leha. Melainkan umat pionir dalam segala kebaikan. Tidak ada rumus istirahat dalam Al-Qur’an, maka begitu seseorang mengaku sebagai hamba Allah di saat yang sama segera bergerak melakukan segala kebaikan yang tak terhingga luasnya: dari sejak bangun tidur sampai tidur kembali, dan dari urusan masuk kamar mandi sampai urusan kenegaraan. Semua dalam Islam ada aturannya, yang jika itu semua diikuti dengan niat ketaatan kepada Allah, akan menjadi potensi kebaikan yang luar biasa pahalanya. 

Lebih jauh, mengapa Allah menggunakan istilah yang begitu menekankan keharusan untuk bersegera dalam kebaikan? Pertama, bahwa melakukan dan menyebarkan kebaikan (al-khairaat) adalah tugas pokok setiap insan. Tanpa kebaikan Allah manusia di muka bumi ini bisa dipastikan telah musnah sejak ratusan tahun yang silam. Dalam surat Abasa 80/20 Allah berfirman, “Tsummas sabiila yassarah” (Kemudian Dia memudahkan jalannya). Maksudnya Allah permudah segala yang menjadi kebutuhan manusia baik secara fisik maupun secara rohani. Dari segi kebutuhan fisik Allah turunkan hujan dari langit dan pancarkan air dari bumi dengannya manusia, Allah tumbuhkan pohonan yang berbuah dengannya manusia bisa makan dan lain sebagainya. Adapun dari segi kebutuhan rohani Allah utus nabi-nabi yang mengajarkan al kitab, lalu kepada nabi terakhir Muhammad saw. Allah turunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak berbuat baik. Kedua, bahwa usia manusia terbatas, dan tidak ada seorang pun tahu kapan ia akan meninggal dunia. Allah berfirman, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (Al-A’raaf: 34). Karena itu seorang hamba hendaknya segera melakukan kebaikan. Jika tidak, ia akan menjadi orang yang paling sengsara tidak hanya di dunia melainkan lebih dari itu di akhirat. Pada ayat di atas Allah berfirman, “wa saari’uu ilaa maghfiratin mirrabbikum” lalu dalam surat Al hadid: saabiquu ilaa maghfiratin mirrabbikum sementara dalam surat Al-Baqarah, “fastabiqul khairaat.” Apa beda antara maghfirah (ampunan) dan al khiraat (kebaikan)? Imam An-Nawawi dalam bukunya Riyadhus Shaalihiin h.58-61 menyebutkan beberapa hadits untuk menerangkan makna bergegas meraih ampunan dan melakukan kebaikan: Pertama, dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal-amal yang shalih, karena akan terjadi suatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita dimana ada seseorang pada waktu pagi ia beriman tapi pada waktu sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman tapi pada waktu pagi ia kafir, ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia. (H.R. Muslim) Kedua, dari Abu Sirwa’ah ‘Ukbah bin Al-Harist ra. Berkata, “Saya shalat Ashar di belakang Nabi saw. di Madinah setelah salam beliau terus cepat-cepat bangkit melangkahi leher barisan para sahabat menuju kamar salah satu istrinya. Para sahabat terkejut atas ketergesaannya itu kemudian beliau keluar dan melihat para sahabat terkejut atas ketergesaannya itu beliau bersabda, “Aku ingat sepotong emas dan aku tidak ingin terganggu karenanya maka aku menyuruh untuk membagikannya.” (H.R. Bukhari) Ketiga, dari Jabir ra. mengatakan bahwa pada perang Uhud ada seseorang bertanya kepada Nabi saw, “Apakah tuan tahu, seandainya saya terbunuh maka di manakah tempat saya? Beliau menjawab, “Di dalam surga. Kemudian orang itu melemparkan biji-biji korma yang ada di tangannya lantas maju perang sehingga ia mati terbunuh. (H.R. Bukhari-Muslim) Keempat, dari Abu Hurairah ra. mengatakan bahwa ada seseorang datang kepada Nabi saw. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, “Yaitu kamu sedekah sedangkan kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih ingin kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda sehingga bila nyawa sudah sampai di tenggorokan (sekarat) maka kamu baru berkata: untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli waris) (H.R. Bukhari dan Muslim). Kelima, dari Anas ra. bahwasanya Rasulullah saw. pada perang Uhud mengambil pedang seraya bersabda: siapakah yang mau menerima pedang ini? Maka setiap orang mengulurkan tangannya sambil berkata: saya, saya. Beliau bersabda lagi, “Siapa yang mau mengambilnya dengan penuh tanggung jawab? Maka semua orang terdiam, kemudian Abu Dujanah ra. berkata: saya akan menerimanya dengan penuh tanggung jawab. Maka pedang itu diberikan kepada Abu Dujanah kemudian ia mempergunakannya untuk memenggal leher orang-orang musyrik. (H.R. Muslim) Keenam, dari Zubair bin ‘Adi berkata: kami datang kepada Anas ra. dan mengadukan masalah penderitaan yang kami hadapi atas kekejaman Al-Hajjaj, kemudian Anas menjawab: sabarlah kamu sekalian, sesungguhnya nanti akan datang suatu masa dimana penderitaan lebih berat lagi, sehingga kamu sekalian bertemu dengan Tuhanmu (mati), saya mendengar itu dari Nabi saw. (H.R. Bukhari) Ketujuh, dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal: apakah yang kamu nantikan kecuali kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahkan segalanya atau menunggu datangnya Dajjal padahal ia sejelek-jelek yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat adalah suatu yang sangat berat dan menakutkan. (H.R. Tirmidzi) Kedelapan, dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Saya akan benar-benar menyerahkan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan rasul-Nya, dimana Allah akan mengaruniakan kemenangan kepadanya. Umar ra berkata, “Saya tidak ingin memegang pimpinan kecuali pada hari ini, maka saya menunjukkan diri dengan harapan dipanggil oleh Nabi saw. untuk memimpinnya. Tetapi Rasulullah memanggil Ali bin Abu Thalib dan menyerahkan panji itu kepadanya seraya bersabda, “Majulah ke depan dan janganlah kamu menoleh ke belakang sebelum Allah memberi kemenangan kepadamu. Kemudian Ali melangkah beberapa langkah lantas berhenti tetapi tidak menoleh ke belakang dan berteriak: wahai Rasulullah, kepada siapakah saya harus berperang?” Beliau menjawab, “Perangilah mereka sehingga mereka menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. apabila mereka telah menyaksikan yang demikian itu maka kamu tidak boleh lagi memerangi mereka baik darah maupun harta bendanya kecuali dengan haknya, adapun masalah perhitungan mereka adalah terserah Allah. (H.R. Muslim)