Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Ath Thalaq: 2-3)
Edisi 149/VII/Dzulqa’dah 1426/Desember 2005
Pintu-pintu Rezeki
D |
ari Ka’ab bin ‘Ujrah r.a. bahwa Rasulullah saw berpesan kepadanya, “Wahai Ka’ab, sesungguhnya tidak akan masuk surga setiap daging dan darah yang tumbuh dari barang haram. Setiap daging dan darah yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih berhak menyantapnya” (HR Thabrany & Bayhaqiy).
Rezeki yang haram adalah bara neraka, sementara rezeki yang halal adalah butir-butir mutiara surga yang mengandung berkah di dunia dan akhirat.
“Jangankan yang halal, yang haram saja susah”. Ungkapan ini sering terdengar ketika berbicara soal rezeki. Frase yang sering jadi dalil pamungkas untuk melegitimasi berbagai penyelewengan baik dalam skala kecil maupun besar. Kalimat ini sangat cocok bagi orang yang pemalas, tapi ingin kaya. Tidak perlu kerja, tidak perlu ambil risiko, tapi ingin jatah paling banyak. Maka diambillah jalan pintas. Cukup duduk di ballik meja dan tanda tangan, sudah dapat jatah banyak tanpa harus berkeringat. Tidak perlu jadi supir, cukup memalak (memeras) para supir sudah dapat “hasil” dalam jumlah besar. Ini gaya preman. Disadari atau tidak, ungkapan dan tindakan di atas mencerminkan sikap tidak percaya akan janji Allah sebagai pemberi rezeki yang telah menjamin rezeki seluruh makhluk hidup di jagad raya ini. Mereka lupa bahwa Allah telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab yang dapat mendatangkan rezeki dengan penjelasan yang amat gamblang. Dia menjanjikan keluasan rezeki kepada siapa saja yang menempuhnya serta menggunakan cara-cara itu. Allah juga memberikan jaminan bahwa mereka pasti akan sukses serta mendapatkan rezeki tanpa disangka-sangka.
Taqwa Kepada Allah
Allah swt berfirman: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq 2-3)
Setiap orang yang bertaqwa, menetapi segala yang diridhai Allah dalam segala kondisi maka Allah akan memberiketeguhan di dunia dan akhirat. Salah satu dari sekian banyak pahala yang diperoleh adalah Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika hidup, dan Allah akan memberikan kepadanya rezeki secara tidak terduga.
Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah di atas, "Yaitu barang siapa yang bertaqwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang dilarang maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya.”
Allah swt juga berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raaf: 96)
Istighfar dan Taubat
Allah SWT mengisahkan tentang Nabi Nuh a.s.:
“Maka aku katakan kepada mereka:"Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. 71:10-12)
Al-Qurthubi mengatakan, "Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rezeki dan hujan."
Ada seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri, maka beliau berkata, "Beristighfarlah kepada Allah." Lalu ada orang lain yang mengadukan kefakirannya, dan beliau menjawab, "Beristighfarlah kepada Allah." Ada lagi yang mengatakan, "Mohonlah kepada Allah agar memberikan kepadaku anak!" Maka beliau menjawab, "Beristighfarlah kepada Allah." Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering-kerontang, beliau pun juga menjawab, "Beristighfarlah kepada Allah."
Maka orang-orang pun bertanya, “Banyak orang berdatangan mengadukan berbagai persoalan, namun anda memerintahkan mereka semua agar beristighfar." Beliau lalu menjawab, "Aku mengatakan itu bukan dari diriku, sesungguhnya Allah swt telah berfirman :
"Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh:10-12)
Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu berhenti dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannya saja sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang demikian tidak memberikan faidah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan.
Tawakkal Kepada Allah
Firman Allah swt: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq: 3)
Nabi saw telah bersabda:
"Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti Allah akan memberikan rezeki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rezeki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang." (HR Ahmad & at-Tirmidzi)
Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri dan sikap bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan. Segala yang ada di alam berupa makhluk, rezeki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya adalah dari Allah semata.
Maka hakikat tawakkal adalah sebagaimana yang di sampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya) dalam seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi dan menahan, tidak ada yang mendatangkan madharat dan manfaat selain Dia.
Silaturrahmi
Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahmi merupakan salah satu sebab terbukanya pintu rezeki, di antaranya adalah:
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahmi." (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw bersabda, "Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan memperpanjang umur." (HR. Ahmad)
Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada hubungan nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau tidak, mahram atau bukan mahram.
Infaq fi Sabilillah
Allah swt berfirman: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39)
Ibnu Katsir berkata, "Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak."
Juga firman Allah SWT lainnya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:267-268)
Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw bersabda, Allah swt berfirman, "Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu." (HR Muslim)
Menyambung Haji dengan Umrah
Berdasarkan hadits Nabi saw dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: "Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pandai besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga." (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai)
Berbuat Baik kepada Orang Lemah
Nabi saw telah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rezeki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan (berbuat baik) kepada orang-orang lemah, beliau bersabda, artinya: Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rezeki melainkan karena orang-orang lemah diantara kalian. (HR. al-Bukhari)
Dhu'afa' (orang-orang lemah) klasifikasinya bermacam-macam, ada fuqara, yatim, miskin, orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar, hamba sahaya dan sebagainya.
Menikah
Firman Allah swt: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan menjadikan mereka kaya dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32).
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. berkata, “Ta’atlah kepada Allah dengan menikah sebagaimana yang diperintahkan-Nya, pastilah Allah akan memenuhi janji-Nya padamu berupa kekayaan”. Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Carilah kekayaan dengan menikah”.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ada tiga golongan yang pasti akan mendapat pertolongan Allah; Orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian, budak yang ingin menebus dirinya dan seseorang yang berperang di jalan Allah.” (HR Ahmad, Turmudzi dan Nasa’iy).
Wallahu a’lam bish showab ???