Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya (QS Ibrahim: 46).
Badai Pasti Berlalu
Edisi 161/VI/Maret 2006/1427 H
A |
pakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia?, Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS Al Fiil: 1 – 5)
Yang dimaksud dengan tentara bergajah pada ayat di atas ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. Sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah. Tahun kelahiran Rasulullah juga disebut Tahun Gajah (‘amul fiil) karena tahunnya bertepatan dengan tahun terjadinya serangan tersebut (571 M).
Kata “kaida” pada ayat alam yaj’al kaidahum berarti tipu daya atau makar atau rencana jahat. Kata ini digunakan sebanyak 26 kali di dalam Al Qur’an. Sedangkan kata “makar” digunakan lebih banyak lagi, yakni sebanyak 30 kali. Diantaranya:
Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah (Ar Ra’du: 42). Pada ayat lain disebukan:
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya (Ali Imran: 54).
Dalam QS Ibrahim: 46, Allah SWT menggambarkan betapa besar mudharat dan dampak negatif yang bakal ditimbulkan jika sebuah makar jahat terrealisir. Bahkan gunung-gunung saja bisa lenyap.
Di masa Rasulullah SAW
Dalam sejarah, Rasulullah dan para rasul juga menghadapi makar kaumnya yang berusaha untuk memadamkan cahaya agama Allah yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan munnafik.
Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci (Ash-Shaff: 8). Lihat juga At Taubah: 32.
Bentuk makar ini antara lain menghalang-halangi dakwah, menipu para pembela kebenaran, penyesatan opini, intimidasi, pemboikotan, hingga sampai pada tahap rencana pembunuhan. Bahkan rencana pembunuhan yang dialami Rasulullah SAW lebih dahsyat lagi. Biasanya syetan hanya membisikan akal bulus dan lintasan keji dalam jiwa dan fikiran tentaranya. Namun dalam kasus ini, Iblis laknatullah ‘alaihi, ikut berkumpul secara fisik dengan kafir Quraisy di Darun Najwa, ikut langsung memberikan “saran jenius” cara yang jitu untuk menghabisi Rasulullah Muhammad SAW. Yakni agar pembunuhan ini menyertakan satu pemuda dari setiap kabilah dan melakukan pukulan secara serentak. Dengan demikian, Bani Hasyim (keluarga Nabi) tidak bisa menuntut pada kabilah tertentu sebagai tebusan darah Muhammad.
Namun, lagi-lagi rencana Allah yang terjadi. Semua tipu daya dan rencana jahat orang-orang kafir yang dibantu syetan itu gagal total. Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya (Ali Imran: 54).
Rasulullah SAW selamat dari kepungan dan rencana pembunuhan. Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat (QS Yasin: 9).
Kisah Nabi Yusuf a.s.
Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui (QS Yusuf: 3).
Kisah Nabi Yusuf ini disebut langsung sebagai kisah terbaik (ahsanul qashash) oleh Al Qur’an. Dan yang unik, tidak seperti kisah-kisah para nabi lain yang terpencar-pencar di berbagai surat, kisah Nabi Yusuf dan pernik-perniknya diceritakan secara utuh dalam satu surat. Cerita ini bermula ketika Yusuf a.s. menceritakan mimpinya kepada ayahnya Nabi Ya’qub a.s.
Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (QS Yusuf: 5)
Dengki. Itulah titik awal syetan masuk ke lubuk hati saudara-saudara Yusuf yang lain. Bagitu ada bibit dengki dalam hati, itu artinya manusia telah membuka pintu masuk untuk syetan dan mengucapkan “Selamat Datang syetan”. Jangan dibayangkan bahwa anak keturunan Nabiyullah Ya’qub a.s. akan selamat dari tipu daya syetan. Apalagi kalau cuma anak kyai, anak pendiri psantren atau mantan ketua ormas Islam. Dan kedengkian anak-anak Nabi Ya’qub ini bukan terhadap orang “luar rumah”, melainkan saudara sendiri. Maka syetan pun membimbing dan membisikkan tipu daya ke dalam hati orang-orang yang dengki ini bagaimana cara yang efisien agar Yusuf a.s. bisa disingkirkan.
Sabda Rasululllah SAW: “Jauhilah oleh kalian penyakit hasad (dengki). Sesungguhnya hasad itu akan memakan semua kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar (HR Abu Dawud).
Maka rencana pun dijalankan. Mereka merencanakan tipu daya dan sandiwara. Tapi Allah punya rencana lain. Dan kehendak Allah pasti terjadi. Tipu daya saudara-saudara Yusuf ini justru menjadi jalan bagi kehendak Allah SWT untuk menjadikan Yusuf a.s. sebagai penguasa di Mesir dan mempertemukannya kembali dengan saudara-saudaranya serta ayah-ibunya.
Ada ungkapan yang menyebutkan bahwa untuk menutupi kebohongan orang cenderung akan berbohong lagi. Inilah yang terjadi pada saudara-saudara Yusuf. Di depan Yusuf a.s. karena tidak kenal, mereka sempat menyatakan:
Mereka berkata: "Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu". Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): "Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu". (QS Yusuf: 77).
Jelas-jelas pada posisi salah dan menzhalimi orang lain, namun enggan meminta maaf. Alih-alih mengakui kesalahan, malah menebar fitnah dan memutar balikkan fakta. Ketularan gaya Iblis ketika membantah perintah Allah untuk sujud kepada Adam a.s. Diberi kesempatan hidup lama, bukannya digunakan untuk bertobat, malah menambah dosa dan cari teman untuk sama-sama masuk neraka.
Meski demikian, toh Nabi Yusuf a.s. tetap dengan besar hati menyatakan:
Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS Yusuf: 92).
Kalimat yang sama diucapkan oleh Rasulullah SAW ketika menaklukkan Makkah (futuh makkah) kepada orang-orang kafir Makkah yang telah memusuhinya selama 20 tahun lebih. Tidak ada cercaan, tidak ada celaan. Kecuali pemberian maaf tanpa syarat. Hasilnya? Manusia datang berbondong-bondong masuk Islam. Ternyata efek pemberian maaf jauh lebih dahsyat daripada sekedar marah-marah dan hanya bisa menyalahkan. Atau sekedar memuaskan nafsu melampiaskan dendam karena kecewa dan kegagalan.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Al Ahzab: 21).
Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung (Al Qolam: 4).
Wallahu a’lam bish showab ???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar