LP3-STUDIA
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN PROFESI (LP3) STUDIA
Pelayanan Jasa Komputer Terpadu
Jl. Manggis No. 4 (Bundaran Bupati) Muara Teweh
Telp. 051921295, 081349546044, 081519384565
Nilek : Disdik Prov.Kalteng 14103.4.1.0001.31
Nilek : Nasional 141031.0001
AKTA NOTARIS : No. 03 tanggal 6 April 2001
NPWP : 02.917.835.7.714.000
YAY. PENDIDIKAN STUDIA MANDIRI
IZIN PENYELENGGARAAN PROGRAM KURSUS :
Nomor : 420/097/KPTS.PLS.2018 tanggal 04 Januari 2018
berlaku sampai dengan tanggal 04 Januari 2020
SERTIFIKAT PELATIHAN :
1. Sertifikat Pelatihan Pengelola Kursus di Palangka Raya
2. Sertifikat Pelatihan Manajemen di Palangaka Raya
3. Sertifikat Pelatihan Kewirausahaan di Palangka Raya
4. Sertifikat Pelatihan IT di Palangaka Raya
Alumni Studia Komputer sd Desember 2010 1.277 orang dari 1653 peserta didik (77%)
Minggu, 25 September 2011
Rabu, 09 Februari 2011
Pintu-pintu Rezeki
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Ath Thalaq: 2-3)
Edisi 149/VII/Dzulqa’dah 1426/Desember 2005
Pintu-pintu Rezeki
D |
ari Ka’ab bin ‘Ujrah r.a. bahwa Rasulullah saw berpesan kepadanya, “Wahai Ka’ab, sesungguhnya tidak akan masuk surga setiap daging dan darah yang tumbuh dari barang haram. Setiap daging dan darah yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih berhak menyantapnya” (HR Thabrany & Bayhaqiy).
Rezeki yang haram adalah bara neraka, sementara rezeki yang halal adalah butir-butir mutiara surga yang mengandung berkah di dunia dan akhirat.
“Jangankan yang halal, yang haram saja susah”. Ungkapan ini sering terdengar ketika berbicara soal rezeki. Frase yang sering jadi dalil pamungkas untuk melegitimasi berbagai penyelewengan baik dalam skala kecil maupun besar. Kalimat ini sangat cocok bagi orang yang pemalas, tapi ingin kaya. Tidak perlu kerja, tidak perlu ambil risiko, tapi ingin jatah paling banyak. Maka diambillah jalan pintas. Cukup duduk di ballik meja dan tanda tangan, sudah dapat jatah banyak tanpa harus berkeringat. Tidak perlu jadi supir, cukup memalak (memeras) para supir sudah dapat “hasil” dalam jumlah besar. Ini gaya preman. Disadari atau tidak, ungkapan dan tindakan di atas mencerminkan sikap tidak percaya akan janji Allah sebagai pemberi rezeki yang telah menjamin rezeki seluruh makhluk hidup di jagad raya ini. Mereka lupa bahwa Allah telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab yang dapat mendatangkan rezeki dengan penjelasan yang amat gamblang. Dia menjanjikan keluasan rezeki kepada siapa saja yang menempuhnya serta menggunakan cara-cara itu. Allah juga memberikan jaminan bahwa mereka pasti akan sukses serta mendapatkan rezeki tanpa disangka-sangka.
Taqwa Kepada Allah
Allah swt berfirman: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq 2-3)
Setiap orang yang bertaqwa, menetapi segala yang diridhai Allah dalam segala kondisi maka Allah akan memberiketeguhan di dunia dan akhirat. Salah satu dari sekian banyak pahala yang diperoleh adalah Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika hidup, dan Allah akan memberikan kepadanya rezeki secara tidak terduga.
Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah di atas, "Yaitu barang siapa yang bertaqwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang dilarang maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya.”
Allah swt juga berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raaf: 96)
Istighfar dan Taubat
Allah SWT mengisahkan tentang Nabi Nuh a.s.:
“Maka aku katakan kepada mereka:"Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. 71:10-12)
Al-Qurthubi mengatakan, "Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rezeki dan hujan."
Ada seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri, maka beliau berkata, "Beristighfarlah kepada Allah." Lalu ada orang lain yang mengadukan kefakirannya, dan beliau menjawab, "Beristighfarlah kepada Allah." Ada lagi yang mengatakan, "Mohonlah kepada Allah agar memberikan kepadaku anak!" Maka beliau menjawab, "Beristighfarlah kepada Allah." Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering-kerontang, beliau pun juga menjawab, "Beristighfarlah kepada Allah."
Maka orang-orang pun bertanya, “Banyak orang berdatangan mengadukan berbagai persoalan, namun anda memerintahkan mereka semua agar beristighfar." Beliau lalu menjawab, "Aku mengatakan itu bukan dari diriku, sesungguhnya Allah swt telah berfirman :
"Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh:10-12)
Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu berhenti dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannya saja sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang demikian tidak memberikan faidah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan.
Tawakkal Kepada Allah
Firman Allah swt: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq: 3)
Nabi saw telah bersabda:
"Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti Allah akan memberikan rezeki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rezeki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang." (HR Ahmad & at-Tirmidzi)
Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri dan sikap bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan. Segala yang ada di alam berupa makhluk, rezeki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya adalah dari Allah semata.
Maka hakikat tawakkal adalah sebagaimana yang di sampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya) dalam seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi dan menahan, tidak ada yang mendatangkan madharat dan manfaat selain Dia.
Silaturrahmi
Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahmi merupakan salah satu sebab terbukanya pintu rezeki, di antaranya adalah:
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahmi." (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw bersabda, "Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan memperpanjang umur." (HR. Ahmad)
Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada hubungan nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau tidak, mahram atau bukan mahram.
Infaq fi Sabilillah
Allah swt berfirman: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39)
Ibnu Katsir berkata, "Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak."
Juga firman Allah SWT lainnya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:267-268)
Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw bersabda, Allah swt berfirman, "Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu." (HR Muslim)
Menyambung Haji dengan Umrah
Berdasarkan hadits Nabi saw dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: "Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pandai besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga." (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai)
Berbuat Baik kepada Orang Lemah
Nabi saw telah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rezeki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan (berbuat baik) kepada orang-orang lemah, beliau bersabda, artinya: Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rezeki melainkan karena orang-orang lemah diantara kalian. (HR. al-Bukhari)
Dhu'afa' (orang-orang lemah) klasifikasinya bermacam-macam, ada fuqara, yatim, miskin, orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar, hamba sahaya dan sebagainya.
Menikah
Firman Allah swt: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan menjadikan mereka kaya dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32).
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. berkata, “Ta’atlah kepada Allah dengan menikah sebagaimana yang diperintahkan-Nya, pastilah Allah akan memenuhi janji-Nya padamu berupa kekayaan”. Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Carilah kekayaan dengan menikah”.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ada tiga golongan yang pasti akan mendapat pertolongan Allah; Orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian, budak yang ingin menebus dirinya dan seseorang yang berperang di jalan Allah.” (HR Ahmad, Turmudzi dan Nasa’iy).
Wallahu a’lam bish showab ???
Sabtu, 05 Februari 2011
Badai pasti berlalu
Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya (QS Ibrahim: 46).
Badai Pasti Berlalu
Edisi 161/VI/Maret 2006/1427 H
A |
pakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia?, Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS Al Fiil: 1 – 5)
Yang dimaksud dengan tentara bergajah pada ayat di atas ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. Sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah. Tahun kelahiran Rasulullah juga disebut Tahun Gajah (‘amul fiil) karena tahunnya bertepatan dengan tahun terjadinya serangan tersebut (571 M).
Kata “kaida” pada ayat alam yaj’al kaidahum berarti tipu daya atau makar atau rencana jahat. Kata ini digunakan sebanyak 26 kali di dalam Al Qur’an. Sedangkan kata “makar” digunakan lebih banyak lagi, yakni sebanyak 30 kali. Diantaranya:
Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah (Ar Ra’du: 42). Pada ayat lain disebukan:
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya (Ali Imran: 54).
Dalam QS Ibrahim: 46, Allah SWT menggambarkan betapa besar mudharat dan dampak negatif yang bakal ditimbulkan jika sebuah makar jahat terrealisir. Bahkan gunung-gunung saja bisa lenyap.
Di masa Rasulullah SAW
Dalam sejarah, Rasulullah dan para rasul juga menghadapi makar kaumnya yang berusaha untuk memadamkan cahaya agama Allah yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan munnafik.
Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci (Ash-Shaff: 8). Lihat juga At Taubah: 32.
Bentuk makar ini antara lain menghalang-halangi dakwah, menipu para pembela kebenaran, penyesatan opini, intimidasi, pemboikotan, hingga sampai pada tahap rencana pembunuhan. Bahkan rencana pembunuhan yang dialami Rasulullah SAW lebih dahsyat lagi. Biasanya syetan hanya membisikan akal bulus dan lintasan keji dalam jiwa dan fikiran tentaranya. Namun dalam kasus ini, Iblis laknatullah ‘alaihi, ikut berkumpul secara fisik dengan kafir Quraisy di Darun Najwa, ikut langsung memberikan “saran jenius” cara yang jitu untuk menghabisi Rasulullah Muhammad SAW. Yakni agar pembunuhan ini menyertakan satu pemuda dari setiap kabilah dan melakukan pukulan secara serentak. Dengan demikian, Bani Hasyim (keluarga Nabi) tidak bisa menuntut pada kabilah tertentu sebagai tebusan darah Muhammad.
Namun, lagi-lagi rencana Allah yang terjadi. Semua tipu daya dan rencana jahat orang-orang kafir yang dibantu syetan itu gagal total. Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya (Ali Imran: 54).
Rasulullah SAW selamat dari kepungan dan rencana pembunuhan. Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat (QS Yasin: 9).
Kisah Nabi Yusuf a.s.
Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui (QS Yusuf: 3).
Kisah Nabi Yusuf ini disebut langsung sebagai kisah terbaik (ahsanul qashash) oleh Al Qur’an. Dan yang unik, tidak seperti kisah-kisah para nabi lain yang terpencar-pencar di berbagai surat, kisah Nabi Yusuf dan pernik-perniknya diceritakan secara utuh dalam satu surat. Cerita ini bermula ketika Yusuf a.s. menceritakan mimpinya kepada ayahnya Nabi Ya’qub a.s.
Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (QS Yusuf: 5)
Dengki. Itulah titik awal syetan masuk ke lubuk hati saudara-saudara Yusuf yang lain. Bagitu ada bibit dengki dalam hati, itu artinya manusia telah membuka pintu masuk untuk syetan dan mengucapkan “Selamat Datang syetan”. Jangan dibayangkan bahwa anak keturunan Nabiyullah Ya’qub a.s. akan selamat dari tipu daya syetan. Apalagi kalau cuma anak kyai, anak pendiri psantren atau mantan ketua ormas Islam. Dan kedengkian anak-anak Nabi Ya’qub ini bukan terhadap orang “luar rumah”, melainkan saudara sendiri. Maka syetan pun membimbing dan membisikkan tipu daya ke dalam hati orang-orang yang dengki ini bagaimana cara yang efisien agar Yusuf a.s. bisa disingkirkan.
Sabda Rasululllah SAW: “Jauhilah oleh kalian penyakit hasad (dengki). Sesungguhnya hasad itu akan memakan semua kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar (HR Abu Dawud).
Maka rencana pun dijalankan. Mereka merencanakan tipu daya dan sandiwara. Tapi Allah punya rencana lain. Dan kehendak Allah pasti terjadi. Tipu daya saudara-saudara Yusuf ini justru menjadi jalan bagi kehendak Allah SWT untuk menjadikan Yusuf a.s. sebagai penguasa di Mesir dan mempertemukannya kembali dengan saudara-saudaranya serta ayah-ibunya.
Ada ungkapan yang menyebutkan bahwa untuk menutupi kebohongan orang cenderung akan berbohong lagi. Inilah yang terjadi pada saudara-saudara Yusuf. Di depan Yusuf a.s. karena tidak kenal, mereka sempat menyatakan:
Mereka berkata: "Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu". Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): "Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu". (QS Yusuf: 77).
Jelas-jelas pada posisi salah dan menzhalimi orang lain, namun enggan meminta maaf. Alih-alih mengakui kesalahan, malah menebar fitnah dan memutar balikkan fakta. Ketularan gaya Iblis ketika membantah perintah Allah untuk sujud kepada Adam a.s. Diberi kesempatan hidup lama, bukannya digunakan untuk bertobat, malah menambah dosa dan cari teman untuk sama-sama masuk neraka.
Meski demikian, toh Nabi Yusuf a.s. tetap dengan besar hati menyatakan:
Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS Yusuf: 92).
Kalimat yang sama diucapkan oleh Rasulullah SAW ketika menaklukkan Makkah (futuh makkah) kepada orang-orang kafir Makkah yang telah memusuhinya selama 20 tahun lebih. Tidak ada cercaan, tidak ada celaan. Kecuali pemberian maaf tanpa syarat. Hasilnya? Manusia datang berbondong-bondong masuk Islam. Ternyata efek pemberian maaf jauh lebih dahsyat daripada sekedar marah-marah dan hanya bisa menyalahkan. Atau sekedar memuaskan nafsu melampiaskan dendam karena kecewa dan kegagalan.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Al Ahzab: 21).
Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung (Al Qolam: 4).
Wallahu a’lam bish showab ???
Senin, 24 Januari 2011
Alhamdulillah blogku ini dia
Assalamu'alaikum
Tidak ada kata yang paling indah selain
Alhamdulillah
"Ini tulisanku yang pertama, kuharap semoga bermanfaat dan berkah untuk diriku dan siapa saja yang bersamaku "
Wassalam
Tidak ada kata yang paling indah selain
Alhamdulillah
"Ini tulisanku yang pertama, kuharap semoga bermanfaat dan berkah untuk diriku dan siapa saja yang bersamaku "
Wassalam
Langganan:
Postingan (Atom)